Selasa, 21 Agustus 2007

Tukang Sol Sepatu

“Ki, kemarin ana sempat berbincang-bincang dengan seorang tukang sol sepatu keliling, seorang bapak paruh baya yang hampir tiap hari datang kekomplek untuk menawarkan jasanya...........” Kata Maula

“Lalu Nak Mas.....” Tanya Ki Bijak.

“Ana bertanya kepada bapak tadi, apakah ia mendapatkan uang setiap harinya, karena ana pikir, sepatu rusak kan tidak setiap hari ada, ki.......” Kata Maula

“Apa jawaban bapak tadi Nak Mas.....” Tanya Ki Bijak lagi.

“Bapak itu menjawab, setiap kali ia berkeliling, setiap kali itu pula ia mendapatkan uang dari jerih payahnya, lalu ana kepikiran ‘kok bisa ya’, ada saja orang yang memperbaiki sepatunya setiap hari, padahal selain sepatu tidak rusak setiap hari, tukang sol sepatu keliling juga khan banyak...?” Kata Maula setengah bertanya.

“Nak Mas tak perlu heran dengan ‘kebijaksanaan Allah’ dalam membagi-bagikan rezekinya, tidak mungkin Allah kekurangan jatah rezeki untuk mahluk-Nya, tidak mungkin Allah salah kasih rezeki kepada mahluk-Nya, betapapun banyak mahluk yang diurusi-Nya, seperti tukang sol sepatu tadi, ia tetap mendapatkan jatah rezekinya tanpa ada sesuatupun yang menghalanginya, tidak karena banyaknya tukang sol atau tidak juga karena sedikitnya sepatu yang rusak, Allah punya cara yang tidak terhingga dalam mengatur perputaran rezeki mahluk-mahluk-Nya.....” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, sepatu kita yang rusak, ternyata bisa menjadi sarana orang lain untuk mendapatkan rezekinya......” Kata Maula seperti baru tersadar.

“Bukan hanya sepatu kita yang rusak, tapi setiap hal, setiap kejadian, bisa jadi merupakan salah satu cara Allah untuk membagikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya........” Kata Ki Bijak lagi.

“Ketika ban kendaraan kita kempes, misalnya, tidak perlu menggerutu apalagi sampai marah-marah, karena boleh jadi dengan cara itulah Allah hendak memberikan rezeki kepada tukang tambal ban...”

“Ketika kendaraan kita rusak, tidak perlu marah-marah atau bersikap secara berlebihan, karena boleh jadi dengan cara itulah bengkel mobil mendapatkan rezekinya....”

“Ketika kita macet dijalan, jangan ngedumel, karena boleh jadi itu jatahnya tukang asongan...”

“Atau bahkan ketika kita sakitpun, sempurnakan ikhtiar berobat kita tanpa harus menyalahkan siapapun, karena sakit kita, adalah ladang rezeki bagi para dokter yang telah menginvestasikan waktu dan uangnya untuk memperoleh gelar dokternya....”

“Lebih dari itu, kematian seseorang, yang oleh sebagian orang merupakan sebuah musibah, juga boleh jadi merupakan cara Allah membagikan rezekinya kepada para penggali kubur atau penjaga kuburan...........” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kadang kita terburu nafsu untuk menyalahkan takdir dengan kejadian yang kurang menyenangkan yang kita alami, kadang kita lebih senang mencari kambing hitam, kadang kita lebih mendahulukan ego kita untuk menyalahkan orang lain, menyalahkan kondisi, menyalahkan apapun untuk membenarkan pendapat kita yang belum tentu benar....” Kata Maula.

“Ya, seperti itulah kebanyakan dari kita bersikap dalam menghadapi kondisi yang tidak kita senangi...., padahal gerutuan kita, kemarahan kita, atau sikap tidak bijak kita dalam menghadapi sesuatu, sangat sangat mungkin dimanfaatkan setan untuk menggelincirkan kita dari kewajiban kita untuk mengimani segala ketentuan Allah dan bertawakal serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya, dan sangat mungkin akan mengurangi rasa syukur kita kepada-Nya..........” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas bayangkan, jika sepatu kita tidak pernah rusak, artinya pabrik sepatu tidak akan memproduksi lagi, artinya perusahaan akan tutup, artinya lagi ribuan buruh diPHK, artinya lagi anak istri atau suami si buruh juga akan kehilangan sumber nafkahnya, betapa banyak orang yang akan menanggung akibat, hanya karena sepatu kita yang tidak pernah rusak, misalnya....” Kata Ki Bijak

“Belum lagi kalau kita bicara orang sakit, mobil rusak, ban kempes, semua didesain oleh Allah untuk memutar roda kehidupan ini agar berputar dan berjalan......” Kata Ki Bijak lagi.

“Subhanallah maa khalaqta hadaa bathilaa.........” Hanya itu yang keluar dari lisan Maula, “Maha Suci Allah, tidak ada sesuatu ciptaan-Nya yang sia-sia”.

“Ki, apakah kita boleh bersedih ketika ditimpa sesuatu yang tidak kita senangi.....” Tanya Maula.

“Bersedihlah, Nabipun bersedih ketika Siti Hadijah meninggal, atau ketika Ibrahim putranya dipanggil berpulang kerahmatullah, tapi kalau kita mengaku sebagai umatnya, kita pun harus mencontoh beliau dalam hal menghadapi kesedihan yang dialaminya, yaitu dengan berserah diri kepada Allah swt.......” Kata Ki Bijak.

“Kadang kita ini berlebihan, kesedihan kita kadang melampaui batas, sehingga tidak jarang kesedihan kita membuat kita mempertanyakan kebijakan Allah, dan ini yang tidak boleh.........” Kata Ki Bijak.

“Sekali kita ragu atau mempertanyakan kebijaksanaan, disana ada jurang kekafiran yang siap menjerumuskan kita kedalam lembah kehinaan fi dunya wal akhirat, Naudzubillah.......” Kata Ki Bijak.

“Tidaklah Allah menciptakan dunia ini kecuali dengan perhitungan dengan maha teliti, terukur, tertimbang dan penuh dengan kebijaksanaan yang sempurna, hanya kadang akal kita yang tidak sampai atau tidak mampu menjangkau kesempurnaan itu, karena memang kita ditakdirkan untuk memiliki sedikit ilmu saja............” Lanjut Ki Bijak.

“Jalani saja kehidupan ini, biarkan semuanya mengalir laksana air, dan lakonkan peran yang kita mainkan sesuai dengan tuntunan skenario qur’an, sehingga diakhir cerita, insya Allah kita akan menjadi orang yang beruntung.......” Kata Ki Bijak lagi.

Maula mengangguk tanda mengerti, dan bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukannya dengan Ki Bijak yang bijaksana ini.

Wassalam

Yang Terindah

Ki, apa yang terindah dalam kehidupan kita........?” Tanya Maula, suatu saat pada Ki Bijak gurunya.

Banyak Nak Mas, banyak hal indah yang bisa kita nikmati dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim...........” Kata Ki Bijak.

“Hal apakah itu ki................?” Tanya Maula

“Dari sekian banyak keindahan dalam kehidupan kita, cinta Allah kepada kita adalah hal terindah yang sangat sulit untuk kita ungkapkan dengan bahasa apapun....” Kata Ki Bijak.

“Cinta Allah ki........?” Tanya Maula.

“Ketika kita tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikan dan mencintai kita, maka perasaan kita akan berbunga-bunga indah, kita merasa menjadi ‘sesuatu’ yang sangat berharga dan bernilai, kita merasa ditempatkan ditaman surga karenanya........”

“Terlebih ketika kita tahu dan menyadari bahwa Allah sangat mencintai kita, bahwa kecintaan Allah kepada kita melebihi kecintaan apa dan siapapun, bahkan kasih sayang seorang ibupun, tak layak untuk dibandingkan dengan cinta Allah kepada kita...............”Kata Ki Bijak lagi.

“Kenapa kita ‘tidak bisa merasakan cinta Allah’ kepada kita ki...........” Kata Maula.

“Itu karena kita cenderung sombong, kita sering mengacuhkan cinta Allah kepada kita, kita lebih sering menyekutukan cinta Allah dengan kecintaan kita pada mahluk-Nya, kita sering mengabaikan cinta Allah dengan lebih mencintai dunia dan isinya, kita lebih sering berpaling dari cinta Allah demi memenuhi kecintaan kita pada harta, pada pangkat, pada jabatan dan pada hal-hal lain selainnya.......” Kata Ki Bijak.

“Dengan cinta-Nya, Allah menempatkan kita pada maqam tertinggi disisi-Nya dibanding semua mahluk-Nya”

“Dengan cinta-Nya, Allah menempatkan kita dimuka bumi, lengkap dengan segala fasilitas yang kita butuhkan.....”

“Dengan cinta-Nya, Allah menganugerahi kita dengan akal, dengan rasa, dengan fikir sebagai pelengkap fitrah kemanusiaan kita....”

“Dengan cinta-Nya, Allah mengutus Rasul-rasul-Nya untuk membimbing kita mengenal dan mencintai-Nya dengan tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun....”

“Dengan cinta-Nya, Allah mengajari kita dengan ilmu yang kita tidak tahu sebelumnya........”

“Dan masih banyak lagi bukti-bukti kecintaan Allah kepada kita yang tidak mungkin kita hitung satu persatu.......” Kata Ki Bijak.

“Lalu apa balasan kita terhadap curahan cinta dan kasih sayang Allah kepada kita....” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

Tanpa menunggu tanggapan Maula Ki Bijak meneruskan pituturnya.

“Kita justru membalas kemulian yang kita miliki dengan menghinakan diri kita sendiri menjadi sedemikian rendah, bahkan lebih rendah dari binatang sekalipun....”

“Kita justru membalas fasilitas yang diberikan Allah untuk kita dimuka bumi ini dengan merusaknya, memperkosa hak-hak alam dengan tidak mengenal batas dan perhitungan...”

“Kita justru menggunakan akal kita, fikiran kita, rasa kita untuk mempertanyakan segala kebijakan-Nya dengan semena-mena, akal kita lebih sering kita gunakan untuk tidak mempercayai siapa yang menciptakan akal kita, rasa kita lebih sering digunakan untuk menumbuhkan ‘kebencian’ terhadap kebenaran yang telah digariskan-Nya.......”

“Rasul-rasul-Nya kita perolok sedemikian rupa, ilmu yang diamanahkan kepada kita pun tidak lantas menuntun kita untuk semakin mengenal-Nya, justru lebih sering kita gunakan untuk mencari dalil untuk mengingkari wujud-Nya yang nyata-nyata adanya....” Kata Ki Bijak.

“Kita ini sering dhalim terhadap Allah, Nak Mas, kita meminta sesuatu kepada Allah dengan diiringi permintaan yang banyak, yang cepat dikabulkan, yang terbaik, tapi sekali lagi, kita kadang tidak berlaku patut dengan mengabaikan perintah-perintah-Nya...”

“Kita minta kepada Allah ‘Ya Allah, saya ingin cepat naik pangkat, ingin gaji besar’, tapi untuk shalat wajib pun kita masih malas-malasan.....”

“Kita minta kepada Allah ‘Ya Allah saya ingin harta yang berlimpah’, tapi untuk zakatpun kita masih sering ketinggalan...”

“Kita minta kepada Allah ‘ Ya Allah saya ingin ini dan itu’ tapi betapa banyak kita mengabaikan apa yang menjadi syarat terpenuhinya do’a dan permintaan kita.....” Kata Ki Bijak.

“Yang lebih ironi, ketika kita merasa telah berdo’a dan meminta kepada Allah, kemudian doa dan permintaan kita tidak diqabul oleh Allah menurut kita, kita lantas ‘menyalahkan’ Allah, yang tidak segera mendengar permohonan kita.....” Kata Ki Bijak lagi.

“Menurut Nak Mas, adil tidak kalau kita meminta kepada Allah yang banyak dan cepat, sementara kita sendiri lalai dalam menjalankan perintah-Nya...?” Tanya Ki Bijak.

Maula menggeleng, ia menyadari bahwa ucapan-ucapan ki Bijak benar adanya.

“Untuk dapat merasakan cinta Allah dengan sempurna, maka kitapun harus melembutkan hati kita, sehingga kita dapat merasakan dan meresapi, betapa Allah benar-benar mencintai kita dengan segala rahman dan rahim-Nya......”Sambung ki Bijak

“Selanjutnya, hal terindah dalam hidup kita adalah ketika kita bersyukur atas segala Nikmat Allah, tiada keindahan dalam menjalani kehidupan ini, kecuali kita dikarunia Allah kemampuan untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan pada kita....”

“Ketika kita memiliki mobil mewah, rumah megah, uang milyaran rupiah, tanah dan kebunpun susah menghitungnya, tapi kita tidak dikarunia Allah kemampuan untuk bersyukur, percayalah, bahwa kita tidak akan dapat menikmati keindahan dari apa yang kita miliki itu....”

“Sebaliknya, dengan segala keterbatasann yang ada pada kita, mobil omprengan, rumah kontrakan, gajipun tak pernah ada kelebihan untuk ditabung, apalagi tanah dan kebun, tapi ketika dihati kita tertanam rasa syukur yang dalam kepada Allah swt, insya Allah, keindahan itu akan terlihat nyata dihadapan kita..”

“Hal ketiga adalah ketika kita dikarunia kesabaran oleh Allah untuk menjalani ujian yang diberikan-Nya, dan kesabaran dalam menjalankan segala perintah-Nya, kesabaran dalam menjauhi larangannya, adalah sebuah mutiara terindah yang akan menjadikan pemiliknya menjadi orang paling bahagia dalamkehidupannya.......”

“Hal keempat adalah ketika kita dikarunia sifat tawakal dan berserah diri kepada Allah, Nak Mas masih ingat firman Allah ;

3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Tak ada yang lebih indah daripada terpenuhinya kebutuhan kita yang dijamin oleh Allah yang Maha Kaya lagi Maha mencukupi....”

“Hal kelima adalah ketika kita dituntun oleh Allah untuk menjalankan segala perintah-Nya dan diberikan kekuatan untuk menjauhi segala larangan-Nya, misalnya dengan cara menempatkan kita pada lingkungan yang menunjang tumbuh kembangnya keimanan dan ibadah kita, misalnya lagi kita diberi oleh Allah waktu luang yang relatif banyak untuk menunaikan kehidupan kita, itu adalah sebuah keindahan dalam kehidupan kita yang tidak dimiliki oleh setiap orang, kecuali oleh mereka yang menyegerakan perintah Allah swt......”

Panjang lebar Ki Bijak menjelaskan hal-hal terindah dalam kehidupan ini, Maula dengan tekun menyimak kata demi kata yang keluar dari lisan bijak gurunya.

Lama Maula merenungi apa yang diajarkan gurunya, ia membandingkan kehidupannya yang sekarang, yang belum mencapai tingkatan kebahagiaan seperti yang barusan diterimanya, hatinya berguman lirih;

“ILAHI ANTA MAKSUDI, WARIDHAKA MATLUBI, ‘A TINII, MAHABBATAKA, WA MA’RIFATAKA”

“YA ALLAH, ENGKAU-LAH YANG HAMBA MAKSUD,RIDHA-MU YANG HAMBA HARAPKAN,BERI LAH HAMBA KEMAMPUAN,UNTUK DAPAT MENCINTAI DAN MAKRIFAT KEPADA-MU”

Wassalam

Kokok Ayam Jantan

"Nak Mas, Nak Mas........., bangun Nak...." Kata Ki Bijak membangunkan Maula yang malam itu tidur dirumah Ki Bijak.

"Ya ki, Alhamdulillahi ahyana ba'da maamatana wa ilaika nushuur...." Maula bangun sambil membaca do'a bangun dari tidur.

"Sudah pukul dua Nak Mas, katanya mau tahajud......." Kata Ki Bijak.

"Ya ki........"Kata Maula sambil beranjak menuju tempat wudlu, sementara Ki Bijak meneruskan membaca Al qur'anul karim.

Setelah berwudlu, Maula berdiri untuk melaksanakan shalat tahajud sebanyak rakaat yang biasa dilakukan baginda Rasul sebagaimana diriwayatkan oleh Aisah ra 'bahwasanya Rasulullah s.a.w. sholat malam sebanyak sepuluh rakaat, di tambah satu rakaat solat witir dan dua rakaat solat sunat fajar. Semuanya tiga belas rakaat." (HR Muslim)'

Selepas Tahajud, Maula mengikuti aktivitas gurunya, yakni membaca Al qur'an'


190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

192. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka sungguh Telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

193. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

194. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."

Baru empat ayat yang sempat dibaca Maula, ketika tiba-tiba suaranya seperti serak menahan tangis;

"Kenapa Nak Mas....?" Tanya Ki Bijak yang berada disebelahnya.

"Tidak apa-apa ki, hanya ana merasakan sesuatu yang belum pernah ana rasakan sebelumnya, yaitu rasa khidmat dan damai ketika ana membaca ayat-ayat diatas ki........." Kata Maula.

"Ya Nak Mas, ayat 190 sampai ayat terakhir dari surat Ali Imran ini biasa dibaca Nabi sebelum beliau melaksanakan tahajud, dan ayat-ayat itu memang sangat indah dan menyentuh..........." Kata Ki Bijak.

"Aki juga pernah merasakannya.....?" Tanya Maula.

Ki Bijak hanya mengangguk sambil tersenyum

"Seperti apa ki........." Tanya Maula lagi.

"Sangat sulit menceritakan pengalaman bathiah kalau kita belum mengalaminya sendiri, insya Allah Nak Mas akan merasakannya sendiri manakala Nak Mas istiqomah tahajudnya........." Kata Ki Bijak.

"Hal terpenting yang dapat aki petik adalah bahwa salah sau ciri 'orang berakal' ialah mereka yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka', disini ada sebuah makna 'kontinuitas, berkelanjutan dan terus menerus' bagi kita untuk tetap mengingat Allah dalam kondisi apapun, dalam kondisi berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring....." Kata Ki Bijak

"Bahkan ada yang memaknai kata 'berdiri" dengan sebuah kondisi manakala kita jaya, saat kita kaya, waktu kita memegang jabatan, sementara "duduk dan berbaring' dimaknai saat kita dalam kesulitan, ketika kita tak lagi mempunyai jabatan atau ketika kita tengah dicoba dengan kemiskinan.......atau singkatnya dalam kondisi dan keadaan apapun, Allah sajalah yang wajib kita ingat dan kita seru dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya...."Sambung Ki Bijak.

"Ki, ana masih sering dihinggapi rasa malas atau kantuk untuk tahajud, padahal ana sudah pasang weaker segala........" Kata Maula.

"Nak Mas pasang weaker-nya disisi bantal guling ya....?" Kata Ki Bijak.

'Ya Ki, biar terdengar......" Kata Maula.

"Coba sekarang sebelum tidur Nak Mas baca 'Allahuma 'uidtu fi saati.........,jam berapa Nak Mas ingin dibangunkan 'kemudian baca surah al fatihah, insya Allah do'a itu akan menjadi weaker yang sangat baik, atau kalau perlu weakernya disimpan agak jauh, mungkin bisa didekat bak mandi atau tempat wudlu, yang penting masih terdengar....."Kata Ki Bijak sambil tersenyum

"Untuk apa ki.....?" Tanya Maula.

"Untuk menggerakan mental mekanik kita, kalau weaker-nya didekat bantal, begitu bel-nya berdering, dilangsung matikan lagi, tapi kalau letaknya agak jauh, minimal kita harus bangun dan melangkah, dan ketika kita sudah bergerak, lalu muka kita kena air, Insya Allah kantuknya akan hilang....." Kata Ki Bijak.

"Waah, boleh juga nih Ki idenya.........." Kata Maula.

"Ya Nak Mas, sebenarnya tahajud bukanlah hal yang terlalu berat, jika kita bandingkan dengan keutamaan-keutamaan dibalik shalat tahajud itu, kita mungkin hanya perlu mengubah kebiasaan kita untuk tidur terlalu larut, kalau memang tidak ada hal yang sangat mendesak, untuk apa kita tidur larut, lalu bangun kesiangan, jangankan tahajud, shubuhpun kadang kita pukul 6....."Kata Ki Bijak.

"Seharusnya kita malu pada ayam jantan Nak Mas........." Kata Ki Bijak.

"Kenapa Ki.....?" Tanya Maula.

"Biasanya Ayam jantan mulai berkokok selepas tengah malam, aki juga tidak tahu kenapa demikian, aki hanya memaknai kokok ayam jantan itu sebagai tanda bahwa disana, diwaktu-waktu selepas tengah malam hingga menjelang shubuh, ada banyak keutamaan dan keberkahan yang Allah tawarkan kepada kita yang mau dan pandai memanfaatkannya.........." Kata Ki Bijak.

"Iya ya ki, ana tidak pernah kepikiran bahwa kokok ayam jantan itu antara pukul satu hingga menjelang shubuh, mungkin untuk mengingatkan tentang keutamaan sepertiga malam itu ya ki..........." Kata Maula

"Wallahu'alam Nak Mas, yang jelas banyak sekali hadits dan keterangan yang menyatakan keutamaan diantara waktu-waktu itu..........." Kata Ki Bijak.

"Apa saja ki keutamaannya.........?" Tanya Maula.

"Aki tidak akan menjawabnya sekarang, aki khawatir akan mengganggu niat dan keikhlasan Nak Mas dalam menjalankan sunah rasulnya, laksanakan saja tahajud dengan istiqomah, insya Allah Nak Mas akan menemukan janji Allah untuk menempatkan para ahli tahajud ketempat yang terpuji, sebagaimana firman-Nya;

79. Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.

"Ketika kita sudah menjadi ahli tahajud, Isnya Allah kita akan ditempatkan "ditempat terpuji" oleh Allah, maka tidak akan ada satu kekuatanpun yang akan mampu menghinakan kita, dan Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.......' Kata Ki Bijak.

"Ki, apa bedanya ahli tahajud dengan tukang tahajud....?" Tanya Maula.

"Seorang ahli tahajud adalah mereka yang mengiklaskan tahajudnya, dzikirnya, bacaan qur'annya, tafakurnya, semata demi memenuhi pengabdiannya kepada Allah dan demi melaksanakan sunah rasulnya, ia akan dengan sekuat tenaga berusaha untuk melaksakan shalat tahajud dengan istiqomah ...."

"Sementara tukang tahajud adalah mereka yang tahajudnya musiman, ia tiba-tiba menjadi rajin tahajud ketika ia sedang mengalami kesulitan, ketika ia sedang dilanda kefakiran, ketika ingin jabatan, tapi setelah kesulitannya diangkat Allah, kefakirannya diganti dengan kekayaan oleh Allah, kursi parlemennya sudah didapat, para tukang tahajud ini tidak akan istiqomah lagi untuk menjalankannya......." Kata Ki Bijak.

"Seperti kuli gitu ya ki....?" Kata Maula.

"Seperti kuli Nak Mas...?" Tanya Ki Bijak.

"Ya, kebanyakan kulikan gitu ki, mereka pura-pura bekerja keras ketika diawasi mandornya atau ketika ingin lemburannya gede, tapi kalau mandornya tidak ada, ia bekerja ala kadarnya dan cenderung malas-malasan........" Kata Maula.

"Meski tidak semua kuli seperti itu, dan bahkan juga banyak mereka yang berdasi dan berjas memiliki mental seperti itu, aki setuju bahwa sikap 'kuli' yang rajin manakala ada pamrihnya, dan sikap malas ketika hajatnya sudah terpenuhi, adalah bukan sebuah sikap yang patut ditiru oleh kita....." Kata Ki Bijak.

Wassalam

Minggu, 12 Agustus 2007

Tuntunan Sholat

"Sesungguhnya amal manusia yang paling pertama kali dihisab ( diperiksa ) pada hari kiamat adalah sholatnya. jika sholatnya di terima, maka di terima pula amal yang lain. dan jika sholatnya di tolak, maka di tolak pula amalnya yang lain."

( H.R.Thabrani).


Shalat adalah suatu ibadah yang terdiri dari perkataan-perkataan dan perbuatan - perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul Ihram dan disudahi dengan Salam disertai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan.

Definisi Semacam ini telah disepakati oleh para ulama ahli fiqih dimana mereka mengatakan :

Keutamaan Shalat

Didalam Agama Islam Shalat mempunyai kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadah-ibadah yang lain. Ada banyak kutipan ayat-ayat Al-qur'an mengenai keutamaan Shalat. Inilah beberapa kutipan tersebut :



Artinya :"Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat wusthaa" (Al Baqarah :238)

Artinya :"Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu" (Thaha : 14)



Artinya :"Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya" (Thaha : 132)

Artinya : "Dan dirikanlah olehmu shalat, karena sesungguhnya shslat itu dapat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar" (Al Ankabut : 45)

Artinya : "Dan dirikanlah olehmu akan shalat dan berikanlah olehmu zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' "(Al-Baqarah : 43)


Dengan memperhatikan ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa Shalat mempunyai kedudukan tersendiri ,bahkan dalam salah satu hadist dijelaskan bahwa Shalat adalah tiang agama. Sebagaimana sabda Rasullulah Saw

Artinya :
"Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama" (HR. Baihaqqi)

Shalat merupakan penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Ia merupakan sebesar-besarnya tanda iman dan seagung-agungnya syiar agama. Shalat merupakan tanda syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada hambanya. Ia merupakan ibadah yang membuktikan keislaman seseorang. Shalat adalah ibadah yang sangat mendekatkan hamba kepada Khaliqnya, Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang berbunyi :



Artinya : "Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya ialah dikala hamba itu bersujud (didalam Shalat). Maka banyak-banyaklah berdo'a didalam sujud itu"

Peringatan Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat

Shalat merupakan tiang agama dan merupakan suatu ibadah yang menentukan apakah seseorang itu Islam atau kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah :

"(Yang menghilangkan pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim)

Didalam hadist dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. tentang ancaman Allah kepada orang yang meninggalkan shalat, sebagai berikut :

1. Dikala mereka hidup didunia :

  1. Dihilangkan keberkahan dari hidupnya.
  2. dihilangkan tanda keshalihan dari mukanya.
  3. tidak berpahala amal-amal perbuatannya
  4. Do'anya tidak diangkap kelangit
  5. Tidak mendapat bagian dalam do'anya orang-orang yang shalih

2. Dikala mereka menghembuskan nafas terakhir dan saat-saat sesudahnya :

  1. Mati dengan penuh kehinaan.
  2. Mati dalam keadaan lapar.
  3. Mati dalam keadaan haus.
  4. Dihimpit kubur dari sebelah kiri dan kanan.
  5. Dinyalakan api Neraka didalam kuburnya.
  6. Didatangkan kepadanya seekorular yang bernama "Asy Syuja'ul Aqra" yang akan menyiksa terus menerus sampai datang hari Mahsyar.
  7. Menderita sengsara dikala hisab pada hari Mahsyar.
  8. Mendapat kemarahan Allah.
  9. Dimasukkan kedalam Neraka.

Mensucikan Diri

Syarat-Syarat Shalat

Rukun-rukun Shalat
Hal yg wajib dilaksanakan
Sunat-sunat Shalat
Hal-hal yang diperbolehkan
Hal-hal yang dimakruhkan
Yang membatalkan Shalat
Tata Cara Shalat
Sujud Sahwi
Shalat berjama'ah
Hukum Masbug & Shalat Jamak
Shalat-shalat Wajib
Shalat-shalat Sunat

Sejarah Sholat 5 Waktu

Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang diutuskan oleh Allah SWT untuk membimbing manusia ke arah jalan kebenaran. Tidak seperti umat nabi-nabi yang lain, umat nabi Muhammad telah diperintahkan untuk mengerjakan solat 5 waktu setiap hari. Ini merupakan kelebihan dan anugerah Allah SWT terhadap umat nabi Muhammad dimana sholat tersebut akan memberikan perlindungan ketika di hari pembalasan kelak. Berikut diterangkan asal-usul bagaimana setiap sholat mula dikerjakan.

Subuh:

Manusia pertama yang mengerjakan sholat subuh ialah Nabi Adam a.s. yaitu ketika baginda keluar dari syurga lalu diturunkan ke bumi. Perkara pertama yang dilihatnya ialah kegelapan dan baginda merasa takut yang amat sangat. Apabila fajar subuh telah keluar, Nabi Adam a.s. pun bersembahyang dua rakaat.

  • Rakaat pertama: Tanda bersyukur karena baginda terlepas dari kegelapan malam.
  • Rakaat kedua: Tanda bersyukur karena siang telah menjelma.
Dhuhur:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Dhuhur ialah Nabi Ibrahim a.s. yaitu tatkala Allah SWT telah memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail a.s.. Seruan itu datang pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim sebanyak empat rakaat.

  • Rakaat pertama: Tanda bersyukur bagi penebusan.
  • Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana dibukakan dukacitanya dan juga anaknya.
  • Rakaat ketiga: Tanda bersyukur dan memohon akan keridhaan Allah SWT.
  • Rakaat keempat: Tanda bersyukur kerana korbannya digantikan dengan tebusan kibas.

Asar:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Asar ialah Nabi Yunus a.s. tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari perut ikan Nun. Ikan Nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai, sedang ketika itu telah masuk waktu Asar. Maka bersyukurlah Nabi Yunus lalu bersembahyang empat rakaat kerana baginda telah diselamatkan oleh Allah SWT daripada 4 kegelapan yaitu:

  • Rakaat pertama: Kelam dengan kesalahan.
  • Rakaat kedua: Kelam dengan air laut.
  • Rakaat ketiga: Kelam dengan malam.
  • Rakaat keempat: Kelam dengan perut ikan Nun.

Maghrib:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Maghrib ialah Nabi Isa a.s. yaitu ketika baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukur Nabi Isa, lalu bersembahyang tiga rakaat kerana diselamatkan dari kejahilan tersebut yaitu:

  • Rakaat pertama: Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa.
  • Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan dan juga tohmahan ke atas ibunya Siti Mariam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang.
  • Rakaat ketiga: Untuk meyakinkan kaumnya bahawa Tuhan itu hanya satu yaitu Allah SWT semata-mata, tiada dua atau tiganya.

Isyak:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Isyak ialah Nabi Musa a.s.. Pada ketika itu, Nabi Musa telah tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah SWT menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu Isyak yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur.

  • Rakaat pertama: Tanda dukacita terhadap isterinya.
  • Rakaat kedua: Tanda dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun.
  • Rakaat ketiga: Tanda dukacita terhadap Firaun.
  • Rakaat keempat: Tanda dukacita terhadap anak Firaun

Kamis, 02 Agustus 2007

Keindahan Dunia

“Assalamu’alaikum........” Sapa Maula

“Walaikumusalam warahmatullahiwabarakatuhu..........” balas Ki Bijak

“Alhamdullilah, kita sudah memasuki bulan Rajab, Nak Mas....” Kata Ki Bijak.

“Ya, Ki, tidak terasa kita sudah menjelang Ramadhan lagi, Ki, kenapa ya waktu terasa begitu cepat berlalu, sepertinya baru kemarin kita meninggalkan ramadhan, sekarang insya Allah kita akan dipertemukan lagi dengan bulan yang dimuliakan itu.....? Tanya Maula.

“Karena kita sangat kerasan / betah tinggal didunia ini Nak Mas......” Kata Ki Bijak.

“Betah, Ki........? Tanya Maula

“Ya, orang yang betah tinggal disuatu tempat, misalnya ditempat wisata, ditempat yang mereka senangi, atau tempat bulan madu, pasti merasakan waktu seakan bergulir lebih cepat, dibanding mereka yang tinggal ditempat-tempat yang tidak mereka senangi....., seorang Narapidana misalnya, pasti merasakan pergantian waktu seakan melambat, karena siapapun tidak suka penjara........” Kata Ki Bijak.

“Begitupun dengan kita, kita merasakan waktu demikian cepat berputar karena kita sangat senang tinggal dudunia ini, kita sangat mencintai dunia ini, sehingga kita sering terpesona oleh keindahannya, itulah yang menyebabkan waktu terasa begitu cepat berlalu...........” Kata Ki Bijak.

“Ki, kenapa orang cenderung mencintai dunia ini, Ki..........? Tanya Maula.

“Karena memang Allah menjadikan dunia ini indah Nak Mas...., coba Nak Mas perhatikan ayat ini”;

14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

[186] yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.

“Dan karena keindahannya itulah, banyak manusia terpesona oleh keindahan dunia, sehingga sebagian dari kita lupa bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan,tempat mampir, yang mau tidak mau harus kita tinggalkan kelak...” Kata Ki Bijak.

“Ki, apakah kita boleh menikmati karunia Allah berupa keindahan dunia ini Ki...? Tanya Maula.

“Boleh Nak Mas, tapi dengan syarat............” Kata Ki Bijak.

“Apa syaratnya Ki......?” Tanya Maula

“Keinginan dan kecintaan kita pada wanita (istri kita), kasih sayang kita pada anak-anak kita, hasrat kita terhadap harta, tidak boleh melebihi kecintaan kita pada Allah dan Rasul-Nya......” Kata Ki Bijak.

“Kadang kita ini berlebihan dalam mencintai dunia dan urusannya, kita demikian cinta pada istri dan anak kita, sehingga kadang kita gelap mata, apapun yang mereka minta, kita turuti, terlepas dengan cara apa kita memenuhinya, sehingga tak jarang orang yang korupsi, menipu atau berbuat kejahatan lainnya, hanya untuk memenuhi kecintaanya pada anak istri.....”

“Benar, anak – istri adalah amanat yang harus kita jaga dan kitapun berkewajiban untuk membahagiakan, tapi juga benar bahwa anak-istri adalah sebuah ujian bagi kita, apakah kecintaan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya tidak tergeser oleh kecintaan kita kepada anak istri kita, kita harus benar-benar bijak dalam menyikapi hal ini........”

“Kadang pula kita demikian mencintai harta kita, sehingga kita lebih mementingkan mobil atau motor kita untuk dibersihkan, dari pada panggilan adzan yang berkumandang, ini yang tidak boleh Nak Mas.....” Kata Ki Bijak.

“Kadang hari-hari dan pikiran kita dipenuhi dengan urusan dunia, mulai mencari duit, pikiran kita dipenuhi ide-ide untuk menambah penghasilan, hati kitapun turut serta mempertimbangkan untung rugi usaha yang akan kita jalani, anak istri pun dilibatkan, waktu kitapun dihabiskan untuk berkubang pada pekerjaan, ikut seminar, pelatihan, trainning yang semuanya bermuara pada uang , sehingga Allah dan Rasul-Nya menjadi nomor sekian.......” Kata Ki Bijak lagi

“Bagaimana cara kita untuk menyikapinya Ki...? Tanya Maula.

“Tempatkan dunia pada porsi yang benar, Nak Mas....” Kata Ki Bijak.

“Ketika kita salah dalam menempatkan dunia, ibarat kita menempatkan kelereng persis didepan mata kita, sehingga bola mata kita tidak bisa melihat benda lain yang lebih besar dari kelereng itu, karena semua bagian mata kita tertutup oleh kelereng yang kecil....”

“Ketika kita menempatkan dunia didalam seluruh aspek kehidupan kita, maka kita tidak lagi dapat melihat akhirat yang luasnya seluas bumi dan langit, dunia ini sangat kecil jika dibandingkan kehidupan diakhirat kelak..........” Kata Ki Bijak.

“Jika kita punya mobil, tempatkan mobil kita digarasi, bukan dihati, karena hati kita hanya untuk Allah”

“Ketika kita punya emas, perak atau tabungan, tempatkan dibank, jangan dihati, karena hati kita hanya untuk Allah”

“ketika kita punya rumah mewah, tempatkan pada posisi yang benar, bukan dihati, karena hati kita hanya untuk Allah”

“Ketika kita punya istri cantik dan anak yang lucu, sayangi dan cintai mereka dengan semestinya, hati kita tetap untuk Allah”

“Sehingga ketika mobil kita rusak atau hilang, hati kita tetap terpaut pada Allah, ketika harta, emas dan perak kita habis, iman kita tidak berkurang pada Allah, ketika rumah kita rusak, kita tidak lantas menyalahkan Allah, atau ketika saatnya tiba kita harus berpisah dengan anak istri kita, kita tetap bersama Allah...” Kata Ki Bijak.

“Ada sebuah kiasan yang indah untuk menggambarkan mereka yang lalai didunia ini, hingga akhirnya mereka menyesal........” Kata Ki Bijak yang melihat muridnya masih betah mendengarkan petuahnya.

“Bagaimana itu, Ki....?” Kata Maula penasaran.

“Ada seorang yang diuji oleh Rajanya dengan cara menempatkan orang tersebut disebuah hutan lebat yang belum pernah terjamah manusia untuk menemukan sebuah mahkota bertahta berlian. Pada mulanya orang tersebut sangat takut dan bingung dengan kondisi hutan yang asing baginya, ia kemudian berjalan kesana-kemari tanpa arah, hingga kemudian ia menemukan sarang lebah yang berisi madu. Setelah mencicipi rasa madu yang baru ditemukannya, orang itu semakin asyik menikmati manisnya madu, ia terus saja menikmati madu, tanpa peduli lagi pada titah raja untuk menemukan mahkota, bahkan ia pun sampai lupa waktu, detik demi detik, menit demi menit ia gunakan semua waktunya untuk menikmati madu, hingga tanpa sadar, malam sudah menjelang...., ia pun kebingungan ditengah kegelapan........”

“Orang tersebut bisa mewakili kita Nak Mas, sementara hutan adalah dunia ini. Ketika kita dilahirkan kedunia yang semula asing bagi kita, kita ditugaskan oleh Allah untuk mengabdi kepada-Nya, dan ditengah perjalanan kehidupan kita, kita dipertemukan dengan manisnya “madu dunia”, yaitu berupa harta serta keindahan lainnya. Dan seperti orang dalam tamsil tersebut, kita terbuai dengan manisnya madu kehidupan dunia, sehingga ketika kita sadar, ajal sudah menjelang, dan kita tidak sempat lagi menunaikan tugas pengabdian kita kepada Allah swt........”

“Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak seperti orang itu, Ki...” Tanya Maula.

“Nikmatilah madu itu, sekedarnya saja, dan jangan lupakan tugas pokok kita untuk mengabdi kepada Allah, untuk membawa sebuah mahkota “Laa ilaha ila llah” untuk kita persembahkan kepada Allah sepulangnya kita keakhirat kelak....” Kata Ki Bijak.

Maula mengganguk, kemudian ia berpamitan kepada gurunya untuk berangkat kerja.

Wassalam